Thursday, 4 February 2016


4KNIGHT

Oleh : Muhammad Hisyam Biaggi 

MIMPI ANEH, PEMBAWA MALAPETAKA
Gelap begitu gelap, hanya kegelapan yang terlihat. Tanpa suara, dan tanpa ada cahaya
yang menerangi. terasa dingin seperti dalam kulkas.“Dimana… Dimana ini ?” tanyaku.
Tiba-tiba ada titik cahaya yang menerangiku, serta menyilaukan mataku. “Apa… Apa itu
?” tanyaku. “ Tunggu… apa yang ? Tidaaakkk !!!” Cahaya itu lalu melesat melewatiku,
melenyapkan kegelapan di sekitarku. Entah bagaimana bisa seperti ini, tapi aku merasakan
panas, tapi bukan panas matahari melainkan panas api. Ada bau-bau gosong, yang tercium oleh
hidungku. Saat aku membuka mataku, aku terkejut seketika. “Apa… Apa ini ? Apa yang
sebenarnya sedang terjadi ?” kobaran api dimana-mana, rumah- rumah terbakar, orang-orang
berlari ketakutan. Ketika aku menoleh ke kanan dan ke kiri, terlihat kastil yang menjulang tinggi
terbakar, di lahap si jago merah. “Kastil ? Ada kastil ?” tanyaku tertegun. Diatasnya terdapat
bendera, dengan lambing perisai yang sekelilingnya di rambati bunga mawar. Pada badan
perisai, terdapat gambar naga yang sedang berdiri menghadapkan wajahnya ke kanan, dengan
mulut yang menganga seperti ingin menyemburkan bola api dari mulutnya. Terdapat dua
pedang yang menilang diantara tubuh naga, seolah sedang menusuknya. “Bendera apa itu ?”
tanyaku yang bingung karena belum pernah melihat bendera dengan lambang seperti itu. Dan
ketika aku mengedipkan mataku, tiba-tiba saja aku sudah berpindah tempat. Aku sekarang
berada di sebuah ruangan, lebih tepatnya ruangan kastil yang tadi terbakar. Aku bisa tahu
karena, aku dapat melihat kobaran api di luar jendela ruangan. Aku tertegun seketika, aku
melihat mayat-mayat orang yang memakai seragam pada zaman pertengahan dulu. ‘Apakah
mereka para penjaga kastil ini atau malah para prajurit ?’ Gumamku dalam hati. Aku pun mulai
berjalan berkeliling mecari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku lalu menemukan
sebuah pintu raksasa, yang terbuka sedikit. Aku lalu mengintip ke balik pintu. Tapi, aku terkaget
ketika ada seorang yang memakai seragam sama seperti mayat-mayat tadi, menembus tubuhku
seolah-olah aku ini hantu. “Apa ini ?, kenapa ia bisa menembus diriku ?” Kataku bingung. Sambil
menatap tanganku sendiri, dan terus bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku ini.
“Raja !! Mereka sudah dekat.” Teriak sang penjaga yang menembus tubuhku dan
mengaburkan lamunanku. ‘Raja ?, lalu siapa yang telah mendekat ?’ batinku bertanya pada
diriku sendiri. Akupun masuk ke ruangan itu, terlihat seseorang penjaga yang menembusku tadi
sedang berlutut di hadapan seseorang. Orang yang dihadapannya itu, kelihatan tidak terlalu
tua, dengan janggut serta kumis yang tumbuh tak begitu lebat, serta keriput di beberapa bagian
wajahnya. Ia memakai baju bangsawan dengan jubah berwarna merah yang panjang serta bulubulu halus yang ada disepanjang tepi jubah itu. Dan ia juga mengenakan sebuah mahkota
raksasa yang kelihatannya terbuat dari emas, serta beberapa berlian yang menempel pada
mahkota itu. ‘Apakah dia Raja yang di bicarakan penjaga tadi ?’ batinku. Di sampingnya ada
seorang wanita berdiri dengan gaun berwarna biru serta putih, dengan ekor gaun yang
memanjang kebelakang. Rambut lebatnya yang panjang berwarna pirang keemasan dibiarkan
terurai. Wajahnya terlihat begitu cantik. Di kepalanya terdapat sebuah mahkota kecil yang
sepertinya terbuat dari perak dan sebuah berlian berwarna biru tertempel tepat di tengah
mahkota. ‘ dia pasti Ratu-Nya.’ batinku menebak. Aku melihat tangannya. Ia seperti sedang
menggendong sesuatu, dan ternyata ia sedang menggendong seorang anak, lebih tepatnya
seorang anak perempuan yang mungkin adalah anaknya. “Apa yang harus kita lakukan sayang
?” kata sang Ratu dengan ketakutan. Terlihat wajahnya mulai menampakkan ketakutan yang
begitu mendalam. Mendengar kata-kata istrinya, sang Raja hanya bisa diam. Ia pun menutup
matanya sebentar, seolah ia sedang memikirkan jalan terbaik yang bisa di ambilnya.
Ia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi. “Jerricho O’Connor, atas
nama kerajaan, aku mengangkatmu sebagai pengawal pribadi dari putriku Alyzabeth Rose
seumur hidupmu.” Kata sang Raja dengan lantangnya. Sang Ratu tersentak kaget atas apa yang
ia dengar barusan, termasuk sang penjaga yang sedang berlutut yang baru kuketahui namanya
adalah Jerricho. “Apakah kau sanggup menjalankan tugas yang kuberikan kepadamu ?” Tanya
sang Raja pada Jerricho. “Tapi, tuanku…”. “Apakah kau sanggup menjalankannya, Jerricho ?”
Tanyanya lagi dengan tegas menyela perkataan Jerricho. Jerricho hanya tertunduk diam. Dalam
beberapa detik, ia mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan sang Raja dengan lirih.
“Baiklah... Saya sanggup.”
Sang Ratu lalu tertunduk diam menghadapkan pandangannya ke anaknya. Tetesan air
mata berjatuhan di wajah sang anak, sang Ratu menangis pilu. Sang Raja lalu memeluk istrinya,
berusaha menguatkan hatinya. Ketika sang Raja melepaskan pelukannya, sang Ratu mulai
menarik nafas panjang dan menghembuskannya berusaha menegarkan dirinya sendiri. Ia lalu
mulai melangkah menuju Jerricho, dengan langkah yang begitu berat seperti ada yang menahan
kakinya. Ketika berada tepat di depan Jerricho, ia menyodorkan anaknya kepada Jerricho tanpa
melepaskan tangannya, yang mana langsung di terima oleh Jerricho. “Tolong… Jaga dia untuk
kami.” Pinta sang Ratu dengan wajah berkaca-kaca. “Baik yang Mulia, saya akan menjaganya
dengan jiwa dan raga saya.” Kata Jerricho dengan yakin. Sang Ratu begitu berat ketika ingin
melepaskan tangannya, pelan namun pasti tangannya mulai terlepas dari tubuh sang anak.
Tiba-tiba sang anak menangis dengan keras, begitu keras seolah-olah ia mengerti bahwa ibunya
akan meninggalkannya. “Sayang… kau tak boleh menangis.” Kata sang Ratu yang mulai
meneteskan air mata sambil mengelus dengan lembut kepala anaknya, untuk menenangkan
sang anak. “Kau… harus menuruti paman Jerricho.” Katanya dengan terisak-isak. “Kau juga…
tidak boleh nakal ya, kau… tidak boleh mengompolinya.” Katanya terhenti berusah menahan
tangisnya. “Ketika kau dewasa nanti, ibu yakin kau akan tumbuh menjadi wanita yang cantik.
Ketika kau takut, ibu akan selalu ada disampingmu, mengawasimu dan menjagamu. Ingatlah ibu
tidak membencimu, ibu menyayangimu nak..” katanya seraya berdiri menutup wajah menahan
tangisnya. Sang anak pun tak berhenti menangis, tangisannya malah semakin keras. Sang Ratu
pun hanya berbalik badan, berusaha untuk tetap tegar dan mulai berjalan dengan gontai
kembali kae arah sang Raja. Jerricho pun tertunduk diam tak berkata apapun, wajahnya mulai
bersedih, ia berusaha menahan tangisannya.
Tanpa kusadari air mataku menetes keluar melihat pemandangan itu. “Aku tak
menangis,… Aku tak menangis.” Kataku seraya mengusap mataku menghilangkan air mataku,
tetapi tetap saja air mataku terus mengalir deras. “Baiklah, aku kalah, kau boleh membajiri
wajahku dengan air asinmu.” Kataku mengalah pada diriku sendiri. Ketika suasana sedih
melanda ruangan itu. Tiba-tiba…
“ Riiiichaaaard !!! Dimana kau ?” teriak seseorang dengan keras menghancurkan
suasana sedih di ruangan itu. ‘Siapa itu ? tapi kenapa suara begitu berat seperti bukan suara
manusia. Atau mungkin aku salah bertanya , sebenarnya suara apa itu tadi ?’ kata batinku
kebingungan, aku bisa merasakan kakiku merinding seketika, bulu-bulu yang ada di tengkukku
serasa berdiri. Dan begitu pula dengan semua orang yang ada di dalam ruangan itu. “Jerricho !
cepat bawa anakku pergi. Ayo lewat sini.” Kata sang Raja, yang lalu melambaikan tangannya.
Tiba-tiba sebuah lemari bergeser dan terdapat lorong rahasia di baliknya. ‘Wau, kereeen !!.
Tunggu dulu, ini bukan waktunya untuk takjub. Ayo sedih, sedih, sedihlah… !! Tapi, tetap saja
tadi itu keren sekali.’ batinku terkagum. Tanpa perintah lagi, Jerricho pun langsung pergi
menuju lorong itu ia pun berbalik dan berkata. “Semoga, para dewa selalu berada di sisimu,
yang Mulia.”. Setelah itu, iapun pergi masuk ke dalam lorong dan menghilang dalam kegelapan.
“Jaga dia untukku, Jerricho.” Kata sang Raja sambil melambaikan tangannya. Lemari itu pun
bergeser menutup lorong rahasia yang ada di baliknya. Sang Raja lalu menatap kepada sang
Ratu, seolah-olah mengharapkan istrinya tidak ada di sana bersama dengannya. Sang Ratu lalu
menciumnya dan berkata, “ Aku akan selalu berada di sampingmu, walau nyawa taruhanku.”.
Sang Raja pun mengangguk dan mengeluarkan sebuah pedang dari balik jubahnya, dan ia pun
lalu mengacungkan pedangnya menghadap pintu.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman langkah kaki, tanah serasa bergetar mengikuti
dentuman kaki itu. Terdengar lagi suara yang menyeramkan seperti tadi. “Riiichaaaard !!
Dimana kau ? kau tak bisa bersembunyi dari ku !” teriak suara tadi. Aura hitam keluar dari luar
pintu ruangan, angin berhembus kencang, aku mulai merinding ketakutan, tubuhku kaku
seketika. Suaranya semakin dekat, semakin dekat, begitu dekat. Sampai aku bisa merasakan
keberadaan makhluk itu tepat berada di depan pintu itu.
“Brakk !!!” pintu itu pun terbuka. Tiba-tiba dinding serta ruangan itu berubah gelap. Tak
ada cahaya yang menerangiku. “Apa ini ?”. “Dimana sebenarnya aku ini ?” tanyaku
kebingungan. Aku pun menoleh kekanan dan kekiri mencari cahaya. Tapi, yang kulihat hanya
gelap tanpa cahaya, lagi ?.
“Tommy….” Tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku. Suaranya begitu berat seperti
suara hantu yang ada di film-film horror. “Siapa itu ?!” bentakku sambil menoleh ke kiri dan ke
kanan mencari sumber suaranya. “Tommy..” Panggilnya lagi, suara itu seperti datang dari
segala arah. “Tommy…”. “Siapa disana ?!”. “Tommy… Tommy Prasetyo…”. “Siapa itu ?,
bagaimana kau bisa tahu namaku ?”. “Tommy… Tommy Prasetyo…”. “Hentikan !!!”. teriakku.
“Tommy… Tommy… Tommy…” Suara itu terus berdengung di telingaku semakin lama semakin
kencang. Bahkan, suaranya semakin dekat, dekat sekali dengan telingaku. Aku menutup
telingaku tapi tetap saja suara itu terus terdengar ditelingaku. Bukan !!!, tetapi di pikiranku.
“Tommy… Tommy… TOMMY… !!!”
“BRUUKK… TOMMY PRASETYO…” aku langsung berdiri tegap dan memberi hormat,
walaupun aku tidak tahu kepada siapa aku memberi hormat. “Siap, pak.” teriakku dengan
lantang. “Ha-ha-ha…” terdengar suara murid-murid tertawa. Aku bingung seketika dengan
kelalkuan mereka, apa yang sebenarnya mereka tertawakan ?. Perlahan aku turunkan lenganku
lalu menoleh kekiri dan kekanan kebingungan dengan kelakuan mereka. Wajahku yang tadinya
segar, tiba-tiba saja menjadi mengantuk. “Ehem… “ ada suara berdeham tepat di depan ku,
semua murid yang menertawaiku langsung terdiam. Ketika aku menoleh kedepan, aku baru
menyadari bahwa ada pak Jono sedang berdiri tepat di depanku dengan wajah kesalnya. Aku
pun hanya menyeringai bingung kepadanya. “Hehe… Selamat pagi, pak.” Kataku padanya,
walaupun aku tahu matahari bersinar terang dari luar jendela. Dia pun membetulkan
kacamatanya yang terlihat miring itu. “Siang.” Jawabnya singkat. “Jadi, bagaimana dengan
tidurmu, mimpi indahkah ?” Tanyanya sambil memandang sinis padaku. “Eh ?, apa, pak ? mimpi
?” kataku berbalik bertanya karena bingung. Terdengar beberapa murid cengengesan dan
berusaha menahan tawa mereka. Satu-satunya orang yang tak tertawa hanya Rizal. Orang yang
duduk satu meja denganku. “Psstt… kau tadi mengigau keras sekali ?” bisiknya padaku.
Wajahnya terlihat ketakutan. “Benarkah ?, Benarkah aku mengigau ?” kataku tak percaya.
“Memangnya… Bagaimna ngigauanku ?” tanyaku padanya. “Ehem, ehem…” Pak Jono berdeham
lagi, seperti mengingatkanku akan keberadaannya, aku membalasnya dengan seringai malu.
“Jadi, apa yang kau mimpikan tadi ?” Tanyanya lagi. “Mimpi ?...”. “ Oh mimpiku, pak!” Kataku
paham dengan apa yang di maksud dengan pak Jono. “Tadi, to, pak. Saya bermimpi…” aku pun
mulai menceritakan semua mimpi yang kulihat tadi. “BRUUKK…” Suara hantaman tangan pak
Jono ke meja. Aku kaget, lalu diam seketika. badanku menegang tak bisa bergerak. “Tommy
Prasetyo!! Kau tahu kesalahanmu ?” Tanyanya. “Ti… Tidak, pak.” Jawabku gemetar. Dia
mengelengkan kepalanya setelah mendengar jawabanku. “Kesalahanmu adalah, kau selalu
tertidur di kelas saat jam pelajaranku, kau selalu…” katanya, panjang lebar. Aku tidak
mendengar apa yang dia bicarakan. Yang kudengar hanyalah kata “bla-bla-bla…” dan
seterusnya.
Oh, iya. Kita belum berkenalan. Perkenalkan namaku Tommy Prasetyo. Umurku 17
tahun hari ini. Tubuhku tak begitu kurus, tapi aku mempunya tinggi badan yang ideal, sekitar
170 –an lah. Kulitku berwarna sawo matang. Aku memiliki bulu mata yang lentik. Rambut tidak
tersisir dengan rapi.
Aku bersekolah di salah satu sekolah yang lumayan di favoritkan, ya… Lumayan. Sekolah
itu bernama SMA BAKTI ABADI. Jujur, aku tidak baik dalam semua mata pelajaran. Pak Jono,
orang tadi memarahiku, selalu mengakatakan bahwa aku ini pemalas. Yah, selain sering tidur di
kelas, faktor lupa mengerjakan tugas juga menjadi alasan kenapa aku di sebut pemalas.
Disekolah, aku hanya memiliki 3 teman, semua temanku adalah orang-orang yang di jauhi.
Salah satunya Rizal. Lebih tepatnya, Rizal Oktaria Rifaldi. Umurnya 16 tahun. Rambutnya
klimis tersisir rapi, bajunyapun rapi dan selalu tertib. Tingginya, hampir menyamaiku. Dia
sebenarnya orang yang pintar dan termasuk fanatic pembaca buku, atau lebih tepatnya kutu
buku. Tapi, karena sifatnya yang terlalu kutu buku, menjadikannya dicap sebagai “SI
PENYEMBAH BUKU”. Kenapa?, karena ia selalu menjadikan buku sebagai patokan dari semua
tingkah laku serta pemikirannya. Jika ada sesuatu hal tidak ia ketahui, ia akan membaca semua
buku dan mencari semua hal yang berkitan dengan hal itu. Ia bahkan, pernah mencari
keperpustakaan nasional hanya untuk mencari tahu tentang suku pedalaman di Indonesia.
Wuih acungi jempol, deh. Tapi, tetap saja siapa sih yang mau bermain dengan anak culun atau
kutu buku. Hanya karena gengsi, banyak orang menjauhi mereka, walaupun ketika ulangan
banyak orang yang bertanya padanya. Yah, teman musiman. Saat butuh datang, saat tak
dibutuhkan lagi, ya di tinggalkan.
“Jadi, apa kau paham, Tommy ?” Tanya pak Jono mengagetkanku. “Apa ? Ada apa,
pak?” tanyaku tak mengerti. Pak Jono hanya mendesah kesal melihat responku. Aku hanya
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalaku. “Tommy Prasetyo.” Panggil pak Jono, yang
membuatku kaget. “Iya, pak.”. “Kau ku hukum berdiri di luar kelas karena tidur dikelas saat jam
pelajaran, sampai jam pelajaraanku selesai.”. “Apa ?” kataku kaget. “Tap… Tapi, pak.”. “Tidak
ada tapi-tapian, laksanakan sekarang !” bentaknya sambil menujuk ke pintu, mengisyaratkanku
untuk keluar.
Aku lau mendesah dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Aku sempat menoleh ke
arah Rizal. Ia menatapku dengan tatapan meminta maafnya, mengisyaratkan bahwa ia tidak
bisa menolongku. Yah… aku hanya bisa pasrah terhadap kenyataan, walaupun aku
membencinya. Aku mengambil sebuah papan kayu dan mengenakannya seperti kalung. Di sisi
depannya tertuliskan “AKU SEDANG DIHUKUM”. Aku lalu mengangkat satu kakiku dan menarik
kedua telingaku dengan kedua tanganku sendiri. “hah…” desahku. “Di hukum… lagi.”


15 menit berlalu, aku merasa kaki mulai pegal-pegal kesemutan. Aku memang sudah
sering di hukum. Jadi, hal seperti itu biasa kulakukan. Tapikan tetap saja, di hukum itu tidak ada
yang enak. Aku mendesah malas lalu melihat jam. “ 01.45, ya. Berarti tinggal 2 jam 15 menit
lagi. Ayo, Tommy bertahanlah !!” kataku menyemangati diriku sendiri. Terdengar suara pak
Jono sedang mengajar di dalam kelas. Aku mendesah sekali lagi, menyesali kemalanganku ini.
Dari ujung lorong sebelah kiriku terlihat seorang laki-laki dan seorang perempuan
sedang berjalan sambil melihat-lihat, seperti sedang mencari sesuatu. Mereka pun lalu
tersenyum padaku. Aku membalas senyum mereka dengan dengan seringai, merasa karena
alasan mereka tersenyum padaku. Mereka lalu mendekat padaku, sontak aku menurunkan
kakiku serta berhenti menarik kupingku dan membaliak papan kayu yang aku kenakan.
“Ada yang bisa saya bantu, pak ?” Tanyaku padanya. Yang laki-laki terlihat tua, umurnya
sekitar 50-60 tahun, warna rambutnya hitam serta beberapa helai uban, di sela-sela
rambutnya. Rambutnya pun tersisir rapi. Tinggi badannya hampir setara denganku. Ia
mengenakan baju kemeja bergaris dengan celana panjang, yang pasti itu bukanlah jins. Ia juga
mengenakan sepatu kulit. Ia lebih mirip ayah bagi perempuan di sampingnya dari pada
pacarnya Sementara perempuan yang ada di sampingnya, ‘Wau… Cantik sekali.’ batinku
memujinya. Bagaimana tidak, perempuan ini memakai baju lengan panjang berwarna ungu
serta celana jins pensil. Rambutnya yang berwarna pirang keemasan terurai ke belakang. Ia juga
memiliki tinggi yang sama seperti laki-laki di sampingnya, kulitnya putih. Tapi, sayang mukanya
agak di tekuk cemberut. Tapi, tetap saja ia terlihat begitu cantik.
“Ruangan kepala sekolah dimana, ya ?” tanyanya yang lansung mengaburkan
lamunanku. “Apa, pak ?, kepala sekolah ?” kataku berbalik bertanya karena masih belum
paham terhadap pertanyaannya. “Iya, Mas. Ruangan kepala sekolah dimana, ya ?” tanyanya
lagi. “Oh, ruangan kepala sekolah ada di ujung lorong sana, pak.” Kataku sambil menunjuk kea
rah ujung lorong di sisi kananku. “Disana, ya ?”. “Ya, pak. Bapak dari sini, lurus saja sampai
ujung, lalu belok kekanan setelah itu nanti ada pintu yang di atasnya tertulis “RUANG KEPALA
SEKOLAH”.” Jelasku padanya. “Oh… Begitu ya, mas. Makasihya, mas.” Katanya. “Iya, samasama.” Balasku. Mereka pun mulai berjalan pergi dan menuju arah yang kuberitahukan tadi.
“Ada apa, Tom ?” Tanya pak Jono mengagetkanku karena keberadaannya yang tiba-tiba
muncul di sampingku. “ Eh ?, bapak. Bikin kaget saja.” Kataku. Pak Jono hanya diam dan
menatapku dengan tatapan seperti hal tadi itu sudah biasa. “Ada apa, Tom ? Lalu siapa mereka
?” tanyanya lagi sambil menatap kepada orang yang tadi bertanya padaku yang telah berada di
ujung lorong. “Oh, mereka. Aku tidak tahu siapa mereka, mereka hanya bertanya dimana
ruangan kepala sekolah.” Jelasku. “Oh, begitu.” Balasnya, ia lau menatapku dengan tatapan
mengingatkan miliknya. Aku yang kebingungan dengan sikapnya itu, hanya bisa memberinya
senyuman bingung milikku. “Ehem…” ia lalu berdeham keras sekali. aku masih belum bisa
mengerti dengan apa yang dia maksudkan, jadi aku hanya menatapnya dengan tatapan kosong.
“Tommy Prasetyo, bukankah kau sedang di hukum sekarang ?” katanya. Ya, aku sedang di hu…
tunggu dulu. “hehe…” seringaiku, yang mana baru kuingat bahwa aku sedang di hukum dan
sekarang aku sedang berada pada sikap tidak sedang di hukum. “ kembalikan sikapmu !” bentak
pak Jono. Aku langsung mengangkat satu kaki dan menarik kupingku. Ia pun membalik papan
yang mengalungiku, aku hanya bisa menyeringai kepadanya, ia membalasnya dengan
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tommy Prasetyo, karena kelalaianmu yang menyepelekan
hukumanku waktunya kutambah 15 menit!!! .” Katanya dengan lantang kepadaku. “Tapi, pak..”.
“Tidak ada tapi-tapian lagi, turuti hukumanku atau ku tambah hukumanmu menjadi
membersihkan kantin sekolah sehabis pulang sekolah !” katanya. “Ba… Baik, pak.” Jawabku,
yang berati menuruti perintahnya. “Bagus, ingat. Saya mengawasi anda Tommy Prasetyo.”
Katanya memelototiku sambil masuk ke dalam kelas.
“hah… Tambahan hukuman, ya.” Kataku sambil menundukkan kepalaku. “Ini semua
terjadi karena mimpi itu, ya ?” Gumamku. “DASAR MIMPI SIAALLLAAAAN !!!!”.

Aku berjalan dengan gontai menuju gerbang sekolah. Berdiri, berjam-jam membuatk
kakiku mati rasa. Jarak dari gedung sekolah ke gerbang, seolah-olah menjadi ribuan mil
jauhnya. Setiap langkah kaki yang ku pijakan terasa menginjak beling, “Kakiku, keram
kesemutan !” bentakku.
“Tom… Tommy” suara teriakan yang aku kenal, yah… itu suara Rizal. Aku lalu menoleh
kebelakan lalu melihatnya. Ia sedang berlari mengejarku dan memegang pundakku ketika
berada di dekatku. Nafasnya tersenggal-senggal lelah, karena berlari tadi.
“Ba… Bagaimana… keadaanmu ?” tanyanya sambil tersenggal-senggal. “Maksudmu,
keadaan kakiku ?, yah… seperti yang kau lihat, kakiku mau serasa mau patah !.” jawabku. Ia lalu
mengatur nafasnya. “Oh, begitu. Bagaimana kalau kita duduk dulu.” Katanya. “kau ingin..”.
“Tenanglah, aku akan menggendongmu, tak mungkin aku membiarkanmu berjalan sendiri
dengan kakimu itu. Aku akan menyanggulmu” katanya menyela mengerti dengan apayang ku
maksud. ‘Terpujilah kau, Rizal.’ Batinku memuji. Ia menyanggulku sampai ke tempat duduk yang
ada di depan kelas. Ia mendudukkanku dengan hati-hati seolah-olah aku ini, kakek tua yang
bertulang rawan. Setelah itu, ia baru duduk di sampingku.
“Jadi… Apa yang kau mimpikan ?” tanyanya padaku. “Mimpiku ?” Tanyaku balik, tak
mengerti. “Iya, mimpimu. Kelihatannya mengerikan.”. “Benarkah ?”. “Ia, kau berteriak-teriak
‘HENTIKAN… HENTIKAN…’ ketika sedang tertidur. “Benarkah ?, aku tak menyadarinya.”.
“He’em, aku tak bohong.” Katanya sambil tangannya membentuk piss. Aku tahu dari wajahnya
bila ia tak bohong. “Jadi, kau mau menceritakannya, padaku ?” tanyanya. “heemmm….. Boleh.”
Jawabku. Aku lalu menceritakan semua kejadian yang ada di mimpiku itu. ia mendengarkanku
dengan seksama. “Dan dari situlah aku berteriak-teriak.” Kataku mengakhiri ceritaku.
Ia mulai berpekir, terlihat dengan raut wajah serta tangannya yang menutup mulut serta
menjadi penopang bagi kepalanya. “Baiklah, aku akan mencari tahu tentang kerajaan itu di
beberapa buku serta kisahnya.” Katanya tertarik dengan mimpiku. “ya.. terserah kau, saja.”
Jawabku. Sambil mengangkat bahuku. Ia masih berpikir seolah mencari tentang buku apa yang
menceritakan tentang kisah raja yang ada dalam mimpiku ini.
“Tom… Zal…” Ada suara teriakan dari belakangku, aku juga mengenal suara itu. ketika
menoleh kebelaakan, ada seorang lelaki yang menggandeng skateboard di tangannya, dengan
jaket terikat di perutnya. Yah, itu adalah salah satu temanku Lukas. “Apa kabar, bro ?” katanya
sambil menyodorkan, tangannya untuk berjabat tangan. “Yah seperti biasa…” kataku
tersenyum sambil membalas jabatan tangannya. “Wah, kena hukum dari pak Jono lagi ya, pasti
karena tidur lagi ?” tebaknya. Aku mengangguk menandakan bahwa tebakannya benar. “haha…
gila lu, men. Masak, setiap ketemu di hukum terus.” Katanya sambil tertawa. “Yah… mau
bagaimana lagi.” Jawabku pasrah. Ia lalu menoleh ke arah Rizal yang sedang berpikir. “Rizal
kenapa, bro?” tanyanya bingung. Lukas dan aku tahu, bila Rizal sedang “MODE BERPIKIR” tak
ada lagi yang bisa mengganggunya. Satu-satunya cara bila ingin berbicara lagi ya, harus
menunggu dia selesai berpikir. “Yah, tanyakan saja sendiri padanya nanti.” Jawabku tak jujur
sambil melonjorkan kakiku untuk melemaskan otot kakiku yang pegal-pegal.
Oh ya, sampai lupa memperkenalkan Lukas. Nama panjangnya ialah Lukas Argartha.
Umurnya 18 tahun. Tingginya hampir sama denganku. Dia tipe orang yang gaul, seperti
barusan, dimana dia memanggil temannya dengan sebutan Bro/Guys. Dia memiliki wajah yang
tampan. Banyak wanita yang suka padanya. Tapi, ia tidak terlalu menanggapinya. Baginya, ia
masih belum merasa perlu mempunyai seorang kekasih. Jadi, dia banyak menghabiskan
waktunya untuk bermain skateboard atau freestyle BMX.
Aku pernah bilang bahwa teman-temanku adalah orang yang di jauhi. Tapi, Lukas adalah
orang tampan dan gaul. Jadi, kenapa ia di jauhi ?. Karena jawabannya adalah, dia adalah orang
yang sedikit pemurung. Itu semua bermula ketika orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Ia merasa terpukul karena kejadian itu. Sejak saat itu ia jadi sering melamun, dan jarang
berbicara. Teman-temannya ( kecuali aku) mulai menjauhinya, karena alasan yang nggak jelas.
Ada karena dia tidak gaul lagi, sering melamun dan masih banyak lagi. Ia juga sering di panggil
“PEMURUNG BERJAKET”. Berjaket karena kesukaannya yang memakai jaket setiap hari
walaupun saat itu sedang panas sekali. Jadi itu alasannya kenapa ia di jauhi. Tapi, itu dulu. Kalau
sekarang sih, dia mulai berubah kembali ke dirinya yang ceria.
“Baiklah, aku mengerti, sekarang.” Serunya yang bangun dari mode berpikirnya yang
membuat aku dan lukas menjadi kaget. “Apanya yang mengerti, bro ?” Tanya Lukas, gak
paham. Ketika, Rizal mau menjawab, terdengar suara klakson mobil, yang sepertinya terdengar
dari suara mobil sedan hitamdari luar gerbang sekolah. Terlihat ayahnya Rizal melambai-lambai
kepada kami. “Maaf,ya. Aku pulang duluan. Besok, akan ku beritahu padamu, Lukas.” Serunya
sambil berlari menuju gerbang. “Ya… Baiklah… Kutunggu besok di kantin saat istirahat.” Jawab
Lukas. Rizal hanya mengangguk dan mulai pergi dengan mobil sedan ayahnya itu.
“Bro, nanti malam kau mau ngapain ?” Tanya Lukas. “Yah, paling aku akan ke rumah Erik.
Memangnya kenapa ?” Tanyaku balik. “Yah, cuman sekedar tanya, aja.” Jawabnya. “Wah, udah jam 4,
bro. Gua, cabut duluan ya, bro.” katanya. “Iya, bro.” jawabku. Ia lalu pergi meluncur menggunakan
skateboardnya. Aku mendesah lelah dan diam beberapa detik. Lalu aku tersadar, bahwa aku di tinggal di
sekolah sendirian dengan kakiku yang tak bisa ku gunakan untuk berjalan. Aku menyeringai sendiri.
“Benar-benar, mereka itu…”. “SIAAALLLL !!!”.

Seuasai perkataanku tadi, malam ini aku pergi ke rumah Erik. Jarak dari rumahku ke
rumahnya hanya berjarak 3 gang kecil. Aku mendatanginya atas perintah bu Nida, wali kelasku.
Yaitu untuk bertanya tentang prihal ketidak hadirannya di kelas kemarin. Aku mendapat tugas
ini karena, hanya aku yang tempat tinggalnya dekat dengan kediamannya. Kaki sudah tidak
kesemutan dan keram lagi, setelah ku pijit-pijit dengan tanganku sendiri tadi sore ( Miris ). Tapi,
tetap saja pegal-pegal terus menyerang kakiku.
Aku akhirnya sampai, di rumah Erik dan mulai mengetuk pintu. “Ting-tung… Permisi.”
Seruku sambil menekan tombol bel. “Silahkan masuk.” Jawab seseorang dari dalam. Aku
membuka pintu dan masuk ke dalam rumahnya. Yap, rumahnya lebih besar dari rumahku,
ruang tamunya juga. Banyak lukisan yang tertempel di dinding ruang tamu. Meja ruang
tamunya, bertema pantai. Di dalam mejanya terdapat ruang yang di isi pasir pantai serta
beberapa cangkang kerang. Lantainya berwarna putih seperti pasir pantai. Langit-langitnya
berwarna biru langit. Ketika aku mengagumi ruang tamu rumah Erik, tiba-tiba keluar seorang
wanita cantik, dari ruang keluarga. Wanita cantik itu ternyata ibunya Erik. Ibunya terlihat muda
sekali, terlihat tidak ada keriput di wajahnya. Kurasa ibunya Erik, rajin dalam menjalankan
perawatan wajah, sehingga wajahnya terlihat cantik sekali. “Eh… Mas Tommy. Ada apa ya,
mas?” Tanya ibunya Erik dengan tersenyum hangat. “Iya, tante. Begini, tante. Eriknya ada ?”
tanyaku gugup sambil mengusap kepalaku. “Oh, Erik. Ada sedang ada di atas kamar. Mas mau
minum apa ?” tanyanya. “Eh… Tidak, usah tante. Saya hanya sebentar, kok.” Jawabku . “Oh,
begitu, ya.”. “Kalau, begitu saya ke atas dulu ya, tante.”. “Oh, ya silahkan.”.
Aku lalu mulai menaiki tangga, menuju lantai atas ke kamar Erik. Ketika, berada di depan
pintunya, terdapat banyak sekali tanda larangan untuk membuka/ mengganggu nya dari luar.
“Sudah di perkirakan, dia pasti sedang..” kataku sambil membuka pintu yang tidak terkunci itu.
“… Bermain Game.” Lanjutku, dan benar. Ketika pintu terbuka, terlihat seorang lelaki sedang
memandang ke monitor computer dengan seriusnya.
Baiklah, akan ku perkenalkan dia. Namanya adalah Erik Setiawan, umurnya 17 tahun
sama sepertiku. Tinggi badannya antara aku dan Rizal. Hobinya cuma satu, BERMAIN GAME.
Dan ini sudah ke delapan kalinya ia tidak masuk ke sekolah karena bermaingame.
“Hei, Erik.” Panggilku. “Siapa itu ?” tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari monitor
komputer. “Ini, Tommy.”. “Oh kau, apakah ku tak lihat…”. “aku membawa pesan dari bu Nida
untukmu, untuk masuk ke sekolah besok.” Kataku menyela. Ia lalu menghentikan game dan
melirik ke arahku. “Tom, Apa kau lupa dengan motoku ?” tanyanya. “Hah… WALAUPUN HUJAN
ATAUPUN BADAI MENERJANG. WALAU SEKAWANAN ZOMBIE MENYERANG. DAN WALAUPUN
NYAWA JADI TARUHANKU. TAK BOLEH ADA YANG MENGGANGGUKU BERMAIN GAMEKU,
TITIK!”. Kataku lalu mencibir setelahnya. Kurasa aku tak harus memberitahu kalian kenapa dia
termasuk orang yang di jauhi. “Tepat, sekali. Jadi tak boleh ada yang menggangguku walaupun
itu bisa menghabisiku.” Katanya sambil mengangguk-angguk percaya diri. “aku
membawakanmu buku majalah GAMERS edisi terbaru.” Kataku malas. Ia melirik ke arahku.
“Tapi, karena kau tak boleh di ganggu jadi…”. “Tunggu dulu,…” katanya sambil memegang
tanganku, dengan wajah penuha harap. Aku menatapnya dengan tatapan malasku. Tapi, itu tak
mengubahnya sama sekali. “Kumohon.” Pintanya, memohon. aku menatapnya lagi tanpa
mengubah ekspressiku. Kami bertatapan selam 10 detik. “hah… Baiklah…” kataku mengalah.
Wajahny menjadi bersinar-sinar seperti baru kejatuhan uang jutaan dolar dari langit. “tapi,
berjanjilah padaku. Besok kau akan masuk sekolah.”. “Janji, gamers.” Katanya. Aku langsung
memberikan majalah bodoh itu padanya. Ia langsung bahagia, berjingkrak-jingkrak kegirangan.
Tanpa perintah darinya, aku langsung menuju pintu dan keluar membiarkan dirinya dengan
kesenangannya sekarang. Karena urusanku sudah selesai disana. Aku lalu menutup pintu seraya
berkata. “Dasar, MANIAK GAME.”.

Aku begitu berjalan malas, dengan hati kesal malam itu. aku kesal karena harus
mendapatkan hari yang benar-benar buruk hanya karena sebuah mimpi. Mulai dari di hukum
pak Jono, di tinggal sedirian di sekolah dengan kaki yang sulit digunakan untuk berjalan dan
mendapat tugas dari bu Nida untuk menemui Erik, yang mana kakiku masih terasa pegal sekali.
“ hah… dasar mimpi, bodoh.” Kataku kesal. Aku mulai menatap kelangit. Hari itu gelap tanpa
bintang sedikitpun. Bulanpun tak begitu menampakkan dirinya.
ketika, sedang asyik melihat ke langit, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melesat cepat
melewatiku. “Apa itu ?” bentakku bingung. Aku lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari
bayangan yang melesat melewatiku tadi. Namun aku tak menemukan apapun. “mungkin hanya
seekor kucing.” Kataku menenangkan diriku sendiri. Aku mulai berjalan lagi. Tapi, aku merasa
ada yang mengikutiku dari belakang. “Siapa disana ?” teriakku sambil membalik badanku. Tapi,
anehnya tak ada siapapun di sana. ‘Cuman perasaanku saja.’ Batinku. Aku mulai berjalan lagi.
Tapi, perasaan bahwa ada orang yang membuntutiku terus ada. hal itu membuat, bulu
tengkukku berdiri. Badanku merinding ketakutan.
Ketika sampai di gang sepi, aku merasa bulu kudukku mulai naik semua, aku semakin
merinding ketakutan. Entah kenapa, aku merasa ada seseorang di belakangku. Aku ingin
menoleh kebelakang. Tapi, keberanianku seolah sirna terbawa angin. Suasananya pun menjadi
mencekam, aku mulai merasa kedinginan. Ketika aku memelankan langkahku, sambil
mengusap-usap tanganku supaya hangat, tiba-tiba… “Bukk” ada sesuatu yang memegang
bahuku. “A… Apa… ini ?” kataku takut. Badanku langsung kaku semua, kaki gemetar, bulu
kudukku makin naik ke atas. Jantungku berdebar-debar kencang. Nafasku mulai tak teratur. Aku
mencoba melirik pundakku, disana ada sebuah.. “TA… TA… TANGAN ?” kataku takut. Aku mulai
menoleh ke belakang perlahan sambil memejamkan mataku. Ketika aku sudah berbalik, aku
mulai membuka mataku secara perlahan. Ketika semua mataku terbuka aku terbelalak kaget
serta takut. Sesosok bayangan hitam raksasa berada tepat di depanku, hanya berjarak beberapa
senti dariku. Jantungku serasa mau copot, kaki dan tanganku mati rasa seketika. “Si… Sia… pa ?”
kataku gagap ketakutan.
Tiba-tiba, bayangan itu mengangkat tangannya tangannya dan ingin menangkapku.
Sontak aku terkejut dan “Waaaa…..!!!” Panik. Aku langsung berlari tanpa melihat kemana arah
aku berlari, yang penting aku bisa berlari menjauhinya. Hanya itu yang kupikirkan. Tiba-tiba
sebuah benda menangkap kakiku. Aku terjatuh seketika di tempat. Benda itu lalu menarikku.
Aku lalu bebalik melihat benda yang menyangkut di kakiku. Saat kulihat ternyata itu adalah
sebuah tali yang di lempar oleh bayangan tadi. “Waaa…!!!” teriakku ketakutan. Aku berbalik
berusaha mencari pegangan untuk menahan diriku. Tapi sulit menemukannya. Hingga akhirnya
aku bisa berpegangan pada tiang papan nama jalan. Tarikan talinya menjadi semakin kuat,
bener-benar kuat. “Ayo, Tommy,… bertahanlah, bertahanlah…” kataku menyemangati diriku
sendiri, dengan wajah ketakutan dan keringat bercucuran dimana-mana.
Tarikannya semakin kuat, semakin kuat, benar-benar kuat, bahkan membuatku
terangkat beberapa senti dari tanah. Peganganku perlahan-lahan melemah. Kurasa tenagaku
sudah terkuras habis. “Ayo, bertahanlah…” teriakku. Semakin melemah,dan... “TIDAAAKKK…!!!”
Peganganku terlepas seketika, aku di tarik ke belakang dengan cepat. “Suuuutttt….!!” Suara
gesekan bajuku dengan tanah terdengar jelas di telingaku.
Dan tiba-tiba, aku berhenti. “Apa… Apa yang… terjadi ?” kataku bingung. Tiba-tiba
badanku di balik dengan kasar oleh sebuah tangan. Dan perutku di injak dengan keras oleh
sebuah kaki. “BUKK..!!”. “Ugghhh… sakit..” kataku sambil memegang kaki itu, dan berusaha
mengangkatnya. Ketika, aku menatap ke atas. Aku melihat sosok bayangan tadi. Tangan kirinya
memegang tali menariknya kuat-kuat. Sementara yang kanan, berusaha menggapaiku.
“SIAPA SAJA…. TOLOOOONG… !!!”
“BERSAMBUNG”


kalau mau download eps 1 klik disini dan disini

eps 2 disini

No comments:

Post a Comment